Teater Aliyah Salafiyah (TEASA) kembali menggelar pementasan teater di Aula MA Salafiyah Kajen Pati pada hari Rabu (2/5) mulai pukul 09.30 sampai 12.00. Kali ini di mainkan oleh TEASA Putri dan mengangkat naskah dengan lakon "Surat Untuk A" karya Siwigustin. 

Arif Khilwa selaku pembina sekaligus sebagai sutradara mengatakan " Pentasan ini selain untuk memperingati Hardiknas juga sebagai pentas rutin."

" kegiatan ekstrakurikuler Teater (TEASA) selalu mengagendakan minimal menggelar dua kali pementasan selama setahun, di semester gasal dan semester genap. Adapun sebagai penyajiinya bergantian antara TEASA putra dan TEASA Putri." imbuhnya

Pemilihan naskah Surat Untuk A ini tepat untuk sebagai proses perenungan bersama dalam memperingati Hardiknas. Sebab, dalam naskah ini menyeritakan tentang berbagai konflik dalam kehidupan yang terkihat dari kegegelisahan para ibu-ibu manula, akibat kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup dimasa lalu. Sekarang mereka diasuh oleh keponakannya. Berbagai permasalahan beragam dirasakan oleh mereka. Ana sebagai keponakan dengan iklas merawat dengan sabar para bibi nya itu. 

Cerita ini menarik ketika terungkap berbagai fakta, diantaranya pengakuan Ana yang telah rela merawat dengan baik para manula itu, karena dia merasa bersalah kepada Almarhum kedua orang tuanya. Ketika mereka mati dia belum sempat berbakti dan memohon maaf kepadanya. 

Perasaan kehilangan terlihat jelas dari para ibu-ibu tua itu. Kesuma, ia perempuan tua setengah gila, setiap hari. menunggu anak kedua datang menemuinya. Sedangkan anak pertama yang sukses tidak pernah menengoknya. Ia mengaggap anak keduanya itu masih hidup, padahal dia sudah mati dengan cara bunuh diri. dia sangat tertekan keinginan ibunya yang menuntut untuk selalu mendapatkan peringkat terbaik di sekolah seperti kakaknya. Sehingga anak itu kehilangan kebebasan dan tekan batin yang luar biasa, yang akhirnya dia memilih bunuh diri. 

Lain dengan Nanik, adek kesuma ini tak memiliki anak dan akhirnya ditinggalkan suaminya pergi dengan perempuan lain. Sedangkan saudarinya yang lain senasib dengan mereka, ada yang anaknya baik dan berbakti sama ibunya. Akan tetapi, karna takut dengan istrinya, anaknya itu tidak berani menemui ibunya. Ada juga yang menyesal karena selalu berprasangka buruk kepada suaminya yang setiap hari menghabiskan waktunya untuk membaca koran. Ia baru menyadari ketika membaca surat yang ditulis suaminya sebelum meninggal, bahwa membaca koran adalah cara mengisi kesepian karena istrinya sibuk dengan aktivitas dengan teman-temannya dan sibuk jalan-jalan. Ada juga yang terpaksa ditinggal anaknya karena tidak direstui penikahan, sebab anaknya itu menikah dengan orang yang masih terikat perkawinan dengan orang lain.

Pada endingnya, datang seorang manula bersama dengan putri dan cucunya yang memohon tinggal bersama Ana. Ia merasa tidak diperhatikan oleh anaknya yang telah sibuk sebagai sebagai pejabat kepala dinas sosial, sedangkan cucunya sibuk  dengan berbagai les yang dilakukan sepulang sekolah. 

" dalam pementasan ini banyak pesan yang bisa diambil, baik sebagai anak maupun orang tua. Konflik dalam rumah tangga, gesekan antar generasi dalam hubungan orang tua (ibu) dan anak sering kali tidak bisa dihindari. pementasan ini seakan mengingatkan kita tentang penting nya sikap bijak dalam mejalani kehidupan. Mengajak kita semua untuk selalu bisa menjalankan peran sesuai dengan status yang melekat pada diri kita masing-masing." Imbuhnya

 
... ...



HUBUNGI KAMI

Alamat

Desa Kajen Kec. Margoyoso Kab. Pati Jawa Tengah Kode Pos 59154