Santri zaman sekarang memang berbeda jika dibandingkan dengan santri zaman dahulu. Perbedaan itu wajar, sebab zaman telah berubah. Perubahan zaman juga berimbas pada perubahan di dalam masyarakat, tidak terkecuali juga di kalangan santri.

Dalam kehidupan bermasyarakat semua akan mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Perubahan terjadi di semua sendi kehidupan di tengah zaman modern yang memasuki era globalisasi seperti sekarang ini. Kecerdasan dan juga kewarasan dalam berpikir, berperilaku  dalam menerima segala hal menjadi penting untuk  menyaring mana yang berdampak baik dan buruk untuk diri serta masyarakat. Bagi yang tidak mempunyai filter diri, maka hanya akan mengalami perubahan yang bersifat Regres, kemunduran dengan hilangnya jati diri di tengah budaya global.

Kemajuan zaman di bidang teknologi komunikasi dan transformasi tidak hanya memberi dampak positif dengan berbagai kemudahan. akan tetapi juga  membawa dampak negatif, sebab interaksi sosial tidak lagi mengenal batas ruang dan waktu. Budaya-Budaya global bisa diakses kapan saja dengan mudah dan belum tentu sesuai dengan kebudayaan kita. 

Keadaan seperti ini menjadi tantangan besar bagi para santri untuk menjaga jati diri dan peranan sesuai dengan status sosial yang melekat pada dirinya. Ancaman kemunduran generasi santri sekarang dibanding generasi santri dahulu seakan terus mendekat. Kemunduran generasi sekarang dibanding generasi santri terdahulu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor penyebab kemunduran generasi santri zaman sekarang terutama dalam segi kualitas keilmuan maupun pengaplikasian dalam laku hidup dipengaruhi faktor dari dalam maupun luar diri santri itu sendiri. 

Faktor pertama dari dalam diri santri, hal ini sangat mempengaruhi kemunduran kualitas generasi santri zaman sekarang, sebab niat dan tekat dalam rangka mencari ilmu telah menjadi pondasi keberhasilan. Keteguhan niat dan tekat yang kuat tidak akan mudah terpengaruh dengan godaan. Apabila niat dan tekat itu mudah goyah oleh godaan zaman dengan  berbagai suguhan hal-hal berdampak negatif maka hilanglah jati diri santri. Ibarat sebuah bangunan, bangunan itu akan mudah roboh apabila fondasinya tidak kuat dan rapuh. 

Niat nyantri para santri begitu beragam, ada yang memang benar-benar dorongan dari kemauannya sendiri yang ingin memperdalam ilmu agama, ada juga yang di perintah orang tua, ada pula yang dipaksa oleh orang tuanya agar anak bisa lepas dari pergaulan yang menyimpang, dan ada pula yang bertujuan agar mendapatkan banyak teman. Dari keragaman niat itu, para santri sekarang, nyantri di Pondok Pesantren sebagai kebutuhan, perintah, paksaan ataupun hiburan. Berarti pondok pesantren tidak hanya mentransfer ilmu akan tetapi juga bengkel moral sekaligus pembentuk jaringan. 

Kedua adalah faktor dari luar. Faktor ini tak bisa lepas dari kemajuan teknologi yang mampu merubah cara pergaulan anggota masyarakat. Pergaulan masyarakat sekarang berbeda dengan zaman dulu, alat komunikasi, informasi dan transformasi semakin canggih. hal ini juga mempengaruhi dalam pergaulan santri di zaman sekarang. 

Kalau santri zaman dahulu motivasi ngaji sangat besar, karena masih belum banyak godaan. Pagi, siang bahkan malam hari waktunya dihabiskan untuk ngaji, belajar dan waktu-waktu kosong dimanfaatkan untuk diskusi, mereka juga bergaul secara terbatas hanya dengan sesama santri atau masyarakat sekitar pondok saja. Zaman sekarang, santri juga sama seperti dulu. Pagi, siang dan malam tetap belajar dan ngaji, akan tetapi motivasinya mulai berkurang sebab godaan zaman begitu besar. 

Gemerlapnya dunia sangat menggoda, pengaruh penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan dan tidak sehat yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan oleh para santri sangat mempengaruhi motivasi mereka dalam menimba ilmu agama. Mereka memanfaatkan Gawai tidak hanya sebagai alat komunikasi dan informasi yang positif. Akan tetapi, Gawai yang terkoneksi dengan internet, lebih banyak digunakan untuk mengakses hal-hal yang bersifat hiburan dan bergaul dengan siapa saja tanpa batas ruang dan waktu. 

Ketidaksiapan secara mental terhadap canggihnya teknologi menyeret mereka pada kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat dan cenderung menyimpang. Gawai hanya digunakan untuk bermain game Online yang mampu membuat si pengguna merasa asyik dan lupa akan waktu hingga mengganggu konsentrasi dan motivasi untuk ngaji dan belajar.

Dengan adanya media sosial, memudahkan untuk bergaul dan berinteraksi secara luas dan cepat. Akan tetapi, penggunaan tanpa kontrol diri juga akan merugikan penggunanya. Pergaulan para santri akan lebih luas dan sulit untuk dikontrol, tidak menutup kemungkinan mereka bergaul dengan orang-orang yang membawa pengaruh negatif. Interaksi yang efektif dengan pihak yang mempunyai kebudayaan menyimpang akan memudahkan para santri juga akan terpengaruh menjadi menyimpang. Kebudayaan-kebudayaan asing akan diikuti oleh para santri baik secara sadar maupun tidak. 

Banyaknya tontonan hiburan yang di suguhkan secara langsung dalam acara di masyarakat maupun melalui media juga berdampak kurang baik dan mengurangi semangat belajar santri. Hal seperti itu akan menjadikan terimitasi dengan apa yang ditontonnya. Apalagi juga disuguhkan dalam media acara-acara yang berbau pornografi yang jelas akan meruntuhkan moralitas bagi kaum muda ataupun santri yang menontonnya.

Secara umum di zaman sekarang ini, untuk menghancurkan jati diri suatu kelompok, golongan bahkan negara sekalipun, tidak harus dengan kekerasan. Cukup dengan menyuguhkan hingga ketagihan tiga hal, yakni Narkoba, Pornografi dan Game Online. Na’udzibillahimindzalik.

(AS/MA SLF)

 

Ditulis atas permintaan Majalah  At-Tatsqif MTs Salafiyah Kajen

 
... ...



HUBUNGI KAMI

Alamat

Desa Kajen Kec. Margoyoso Kab. Pati Jawa Tengah Kode Pos 59154